Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perbedaan Perjanjian Bunga Abadi dan Perjanjian Untung - Untungan.

Perbedaan Perjanjian Bunga Abadi dan Perjanjian Untung - Untungan.

1. Bunga Tetap atau Bunga Abadi

Bunga tetap atau bunga abadi sudah diatur di dalam Pasal 1770 sampai  dengan pasal 1773 KUHPerdata.Bahwa yang dimaksud dengan bunga abadi atau bunga tetap adalah perjanjian bahwa pihak yang memberikan pinjaman uang akan menerima pembayaran bunga atas sejumlah uang pokok yang tidak akan dimintainya kembali ( Pasal 1770 KUHPerdata ).

Bunga tersebut dapat diangsur , hanya kedua belah pihak yang dapat mengadakan kesepakatan bahwa angsuran itu tidak boleh dilakukan sebelum lewat waktu tertentu yang tidak boleh ditetapkan lebih lama dari Sepuluh (10) tahun, atau tidak boleh di lakukan sebelum diberitahukan kepada kreditur dengan suatu tenggang waktu, yang sebelumnya telah ditetapkan oleh mereka, akan tetapi  tidak boleh lebih lama dari 1 ( satu ) tahun ( Pasal 1771 KUHPerdata ). 

Sebagai Contoh : Indonesia Telah berutang pada negara donor, Seperti CGI, IMF, ADB dan lain - lain. Bunga yang ditetapkan oleh pemberi pinjaman sangat kecil , yaitu 5 - 10 % / Tahun dan jangka waktunya berkisar antara 10 sampai 30 tahun.

Seorang yang berutang bunga abadi dapat dipaksa mengembalikan uang pokok jika :
  • Ia tidak membayar apa pun dari bunga yang harus dibayarkannya selama (dua) tahun berturut - turut.
  • Apabila ia lalai memberikan jaminan yang dijanjikan kepada kreditur.
  • Jika ia dinyatakan pailit atau dalam keadaan benar - benar tidak mampu membayar ( Pasal 1772 KUHPerdata ).
Pada dasarnya debitur dapat membebaskan diri dari kewajiban mengembalikan uang pokok, jika dalam waktu 20 ( dua puluh ) hari terhitung sejak ia mulai diperingatkan dengan perantaraan hakim ,maka ia akan membayar angsuran - angsuran yang sudah harus dibayarnya atau memberikan jaminan yang dijanjikan.

2. Perjanjian Untung - Untungan

Istilah perjanjian untung - untungan ini berasal dari terjemahan " Kansovereenkomst " ( Belanda ). Perjanjian ini telah diatur di dalam Bab XV Buku Ke III KUHPerdata. Jumlah pasal yang mengatur tentang perjanjian untung - untungan ini sebanyak 18 Pasal, yang dimulai dari Pasal 1774 sampai dengan Pasal 1791 KUHPerdata.

Pengertian tentang Perjanjian Untung - untungan ini bisa diliat di dalam Pasal 1774 KUHPerdata. Di dalam pasal 1774 KUHPerdata dijelaskan bahwa yang di maksud dengan Untung - untungan merupakan Suatu perbuatan yang hasinya yaitu mengenai untung ruginya, baik bagi semua pihak maupun bagi pihak sementara, yang tergantung pada suatu kejadian yang belum pasti. Hasil yang di peroleh dari perjanjian ini tergantung pada faktor nasib dari para pihak.

A. Jenis - Jenis Perjanjian Untung - Untungan

Perjanjian ini dapat di bagi menjadi 3 jenis yaitu :
  • Perjanjian pertanggungan ( Asuransi )
  • Bunga cagak hidup, dan
  • Perjudian dan pertaruhan ( Pasal 1774 KUHPerdata )
Perjanjian pertanggungan ( Asuransi ) diatur di dalam KUH Dagang, Namun jenis kedua dan ketiga diatur di dalam KUHPerdata. Maka dari itu berlakulah Asas Lex Specialis Derogat Lex Generalis,  yang artinya Undang - undang yang khusus mengesampikan Undang - Undang yang umum.

1. Bunga cagak Hidup

Istilah bunga cagak hidup berasal dari terjemahan lijfrente. Dimana KUHPerdata tidak kita temui pengertian bunga cagak hidup, tetapi yang ada hanya tentang cara terjadinya bunga cagak hidup dan orang - orang yang berhak untuk mendapat cagak hidup. Vollmar mendefiniskan bunga cagak hidup yaitu Dimana bunga yang harus dibayar selama hidupnya atau selama bagian dari hidup seorang tertentu, yang karena itu lantas ada harapan, bahwa disitu hanya perlu dibayarkan ( Uang ) sedikit saja atau sama sekali tidak perlu dibayar apa - apa atau disitu perlu dibayarkan bunga yang sangat tinggi jumlahnya, satu dan lain dengan mengingat orang di atas dirinya bunga itu ditanamkan atau panjang umurnya " (Vollmar, tt : 408-409)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia : Bunga cagak hidup adalah pembayaran berkala yang di bayarkan selama hidup orang tertentu atau selama waktu tertentu, asal saja orang tersebut masih Hidup.

Nah kedua dari definisi tersebut tidak ada disebutkan bahwa siapa yang memberikan bunga tersebut kepada orang tertentu. Justru yang ada hanya penerima bunga cagak hidup yang diberikan selama masih hidup. Kemudia apabila yang bersangkutan telah meninggal dunia maka pemberian bunga cagak hidup itu menjadi tidak berlaku lagi.

a. Cara terjadinya bunga cagak hidup ini telah diatur dalam Pasal 1775 KUHPerdata. Caranya ada 3 sebagai berikut :
  • Perjanjian
  • Hibah,dan
  • Wasiat
Terjadinya bunga cagak hidup karena perjanjian adalah suatu cara terjadinya yang disebabkan oleh adanya perjanjian antara para pihak yang mengadakan bunga cagak hidup. Misalnya, Si A berjanji pada B untuk memberikan bunga cagak hidup selama hidupnya. Besarnya bunga cagak hidup yang diserahkan kepada B sebesar Rp. 50.000,00/ Bulan. Uang sebanyak itulah yang digunakan oleh B untuk biayai hidupnya selama 1 Bulan.

b. Orang yang berhak menerima bunga cagak hidup ini  diintrodusir dalam pasal 1776 sampai dengan Pasal 1778 KUHPerdata. Orang yang berhak menerimanya sebagai berikut :
  • Atas diri orang yang memberikan pinjaman.
  • Atas diri orang yang diberi manfaat dari bunga tersebut.
  • Atas diri seseorang  pihak ketiga, yang walaupun orang ini tidak mendapat manfaat daripadanya.
  • Atas diri satu orang atau lebih, dan
  • Dapat diadakan untuk seorang pihak ketiga, Namun uangnya diberikan oleh orang lain.
2. Perjudian dan Pertaruhan

Pada hakikatnya yang di maksud dengan Perjudian dan pertaruhan merupakan perbuatan untuk mempertaruhkan sejumlah uang atau harta dalam permainan tebakan berdasarkan kebetulan, dengan tujuan untuk mendapatkan harta yang lebih besar daripada jumlah uang yang atau harta semula. Sedangkan definisi dari pertaruhan adalah uang atau harta benda yang dipasang ketika berjudi. Jadi Secara sosiogis banyak kegiatan - kegiatan berkaitan dengan perjudian dan pertaruhan, seperti halnya judi kupon putih, judi ayam, dan masih banyak lainnya. (  Pasal 1788 sampai dengan Pasal 1791 KUHPerdata.)

Perjudian dan pertaruhan ini termasuk dalam perikatan wajar ( natuulijk verbintenis ) . Artinya bahwa para pihak yang mengadakan perjanjian tidak mempunyai hak untuk menututnya ke pengadilan, apabila salah satu pihak wanprestasi ( Pasal 1788 KUHPerdata ). Hal tersebut disebabkan karena bertentangan dengan Undang - Undang, Kesusilaan, dan Ketertiban Umum.

Baca Juga : Hak dan Kewajiban Para Pihak Dalam Perjanjian  Penitipan Barang

Demikian  artikel dari kami, Semoga bermanfaat, jangan lupa di SHARE. Terima Kasih.

Sumber hukum :

1. Kitab Undang - Undang Hukum Perdata
2. Kitab Undang - Undang Hukum Dagang

Post a Comment for "Perbedaan Perjanjian Bunga Abadi dan Perjanjian Untung - Untungan."

Berlangganan via Email